Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki.
Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak yang berdiri dengan gagah di tengah perjalanan yang kita ciptakan bersama.
"Jam segini aku baru pulang, Han". Isi pesan ; yang aku akhiri dengan emoticon sedih, yang selalu aku kirim pada satu phonebook favorite. Yang pastinya aku tau pesan ini tak akan ada balasannya.
Biasanya; dulu, pukul 5 sore aku sudah siap untuk menjemputmu di depan kantor, di seputaran Basuki Rahmat. Dengan muka lelah kau keluar dari pintu depan, masih memaksakan diri untuk lemparkan senyum padaku. Bertanya apakah aku lelah hari ini? Padahal yang aku tau kau pun lelah hari itu. Sekian lama
aku tak bertemu, apakah kau merindukanku juga. Apakah mereka memperlakukanmu
dengan bai.
Sudah
lama aku tak mendengar tawa renyah dari perempuan yang telah menemani hidupku
selama 5 tahun belakangan ini. Aku sangat merindukannya, sampai aku mendapati
wajahnya di setiap tidur malamku. Apakah ketika ia tertidur nyenyak ada aku
yang menghampiri mimpinya walau sejenak? Terkadang aku bosan menunggu waktu
yang ditentukan, ketika aku akan dapat bersanding kembali bersamanya.
Berat
aku hembuskan nafas yang sedari tadi sesakan dada. Rindu ini telah memasuki
ranah organ dalam tubuhku. Menjalar hingga ke jantung, hingga membuatnya
berdetak semakin kencang ketika mengingat wajahnya. Gelisah, bahkan membuatku tak dapat fokus menyelesaikan serangkaian rapat hari ini.
Menengadah ke langit sambil
membayangkan senyum indah yang dahulu kau sunggingkan untukku. Apa yang bisa
aku lakukan selain menunggu waktu itu tiba dan kembali ke pelukanmu? Tuhan,
jaga hanny ku sebaik ia mencintaiku saat
kami bersama. Aku menyanyanginya, dan aku tau Engkau pun akan begitu padanya.
Kirimkan malaikat serta bidadari yang baik hatinya, buat ia senyaman mungkin.
Salam dari aku yang merindukanmu, untuk setiap waktu.
Komentar
Posting Komentar