Waktu yang bergulir tak
memberikan ruang untukku merasa sepi, selama aku bersama sosok yang teridamkan.
Memenjamkan mata pada waktu yang mampu menanam benih cinta menuju setia bersama
bahagia. Sampai-sampai aku pun lupa, pertama kalinya rasa itu tumbuh lalu
merekah dengan cantiknya. Nyaman pun tak mau hilang, selalu hangat di dalam
hati.
Aku menerima apapun darinya,
meskipun itu hanya cinta, perhatian dan kasih sayangnya. Karena ku tau, semua
itu hanya teruntuk pada ku seorang.
Jarang aku dibawanya pergi
menemui sahabat-sahabatnya. Kala itu pun, yang paling membekas disaat aku
menemaninya sparing futsal. Ia tampak sangat tampan di mataku. Namun, tak ada
apapun yang berkesan hari itu. Bahkan, aku sama sekali tak dikenalkannya pada
rekan-rekan dekatnya. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa aku adalah
kekasihnya.
Kekecewaan yang ku telan sendiri
dengan hati-hati. Terkadang, rasa itu pun menyela perlahan di antara nyaman.
Bagai aku ada di hatinya, tapi tak nampak pada permukaan hidupnya. Berbahagia atas
status di hadapnya, tapi tidak di depan rekan-rekannya. Aku hanya tersenyum
saat menyadari itu semua.
Banyak asumsi dari
hati kecil yang memenuhi pikiran liar ini. Apakah dia malu memiliki aku yang
sesederhana ini? Bila dibandingkan dengan kekasihnya di masa lalu, aku tak ada
apa-apanya. Pernah satu kali ia meminta ku untuk berdandan sewaktu jalan berdua.
Malu-malu aku dihadapnya, namun hatiku berceloteh sedikit. Apakah kini ia
menginginkan gadis yang dewasa untuk pendamping hidupnya? Jujur saja, aku tak
mampu untuk waktu dekat ini.
Maafkan aku
menyayangimu sepenuh hati, tapi belum bisa jadi apa yang kamu minta.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Memilikinya lebih dari 720 hari,
suatu kebanggaan dan kebahagiaan dalam hidup ku. Mencintainya dengan sepenuh
hati, itulah inginku. Walaupun
bila aku melihat kali pertam berjumpa, aku hanyalah pelarian semata setelah
patah hatinya karena sosok pria sebelum aku memenuhi kehidupannya. Sekalipun
begitu, aku menyayanginya lebih dari apapun. Lebih dari apa yang ia tau. Namun, terkadang ia memintaku untuk mengenalkannya pada rekan
sejawatku. Aku tau, ia menginginkan perjelasan statusnya di hadapan sahabatku.
Dan seringnya pun, aku hanya menjawab permintanya dengan diam. Selebihnya, aku memohon
dalam hati.
Tuhan, aku menyayanginya sepenuh
hati. Sayangku, maaf aku hanya banyak diam. Tak pernah satu kali pun aku merasa
malu atau apapun yang kamu rasakan di hatimu saat itu. Aku tak akan pernah rela
membagi ramah mu pada siapa pun, mesi itu sahabatku. Aku tak inginkan kamu
merasa nyaman dengan yang lain. Percayalah,
terlebih dahulu aku akan mengenalkan dirimu pada kedua orang tuaku, membuatmu
nyaman dan merasakan kasih sayang bukan hanya padaku.
i love this {}
BalasHapusMakasih aul :')
BalasHapus