Langsung ke konten utama

720 hari, tak cukupkah untukku buktikan padamu?

Waktu yang bergulir tak memberikan ruang untukku merasa sepi, selama aku bersama sosok yang teridamkan. Memenjamkan mata pada waktu yang mampu menanam benih cinta menuju setia bersama bahagia. Sampai-sampai aku pun lupa, pertama kalinya rasa itu tumbuh lalu merekah dengan cantiknya. Nyaman pun tak mau hilang, selalu hangat di dalam hati.

Aku menerima apapun darinya, meskipun itu hanya cinta, perhatian dan kasih sayangnya. Karena ku tau, semua itu hanya teruntuk pada ku seorang.

Jarang aku dibawanya pergi menemui sahabat-sahabatnya. Kala itu pun, yang paling membekas disaat aku menemaninya sparing futsal. Ia tampak sangat tampan di mataku. Namun, tak ada apapun yang berkesan hari itu. Bahkan, aku sama sekali tak dikenalkannya pada rekan-rekan dekatnya. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa aku adalah kekasihnya.

Kekecewaan yang ku telan sendiri dengan hati-hati. Terkadang, rasa itu pun menyela perlahan di antara nyaman. Bagai aku ada di hatinya, tapi tak nampak pada permukaan hidupnya. Berbahagia atas status di hadapnya, tapi tidak di depan rekan-rekannya. Aku hanya tersenyum saat menyadari itu semua.

Banyak asumsi dari hati kecil yang memenuhi pikiran liar ini. Apakah dia malu memiliki aku yang sesederhana ini? Bila dibandingkan dengan kekasihnya di masa lalu, aku tak ada apa-apanya. Pernah satu kali ia meminta ku untuk berdandan sewaktu jalan berdua. Malu-malu aku dihadapnya, namun hatiku berceloteh sedikit. Apakah kini ia menginginkan gadis yang dewasa untuk pendamping hidupnya? Jujur saja, aku tak mampu untuk waktu dekat ini.

Maafkan aku menyayangimu sepenuh hati, tapi belum bisa jadi apa yang kamu minta.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Memilikinya lebih dari 720 hari, suatu kebanggaan dan kebahagiaan dalam hidup ku. Mencintainya dengan sepenuh hati, itulah inginku. Walaupun bila aku melihat kali pertam berjumpa, aku hanyalah pelarian semata setelah patah hatinya karena sosok pria sebelum aku memenuhi kehidupannya. Sekalipun begitu, aku menyayanginya lebih dari apapun. Lebih dari apa yang ia tau. Namun, terkadang ia memintaku untuk mengenalkannya pada rekan sejawatku. Aku tau, ia menginginkan perjelasan statusnya di hadapan sahabatku. Dan seringnya pun, aku hanya menjawab permintanya dengan diam. Selebihnya, aku memohon dalam hati.


Tuhan, aku menyayanginya sepenuh hati. Sayangku, maaf aku hanya banyak diam. Tak pernah satu kali pun aku merasa malu atau apapun yang kamu rasakan di hatimu saat itu. Aku tak akan pernah rela membagi ramah mu pada siapa pun, mesi itu sahabatku. Aku tak inginkan kamu merasa nyaman dengan yang lain. Percayalah, terlebih dahulu aku akan mengenalkan dirimu pada kedua orang tuaku, membuatmu nyaman dan merasakan kasih sayang bukan hanya padaku.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku selalu berdoa atas rinduku.

Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki.  Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak y...

Sabar. Satu per satu - Kale

12 Januari 2020. 22.40. Sampai di depan rumah setelah bertemu dua teman ketika kuliah. Sudah cukup lama rupanya hiatus dari pertemuan seperti ini. Seperti sekarang aku memulai menulis lagi. Kikuk ketika mengawali pertemuan tadi. Seperti pada umumnya, bertemu kabar dan kerja dimana sekarang? Mencari tempat makan siang, karena tadi sampai di PI sekitar pukul 2 siang. Lapar. Ayo makan ! Mengunyah sembari bercerita. Tidak ku kira aku menemukan sosok yang sama sepertiku dalam menghadapi problematika hidup. Fyi, tahun ini aku menuju 24 tahun. Sudah cukup tua untuk memulai pembicaraan tentang masa depan, apa yang akan kamu lakukan, goals apa saja yang sudah dicapai. Sungguh terlambat. Tapi tidak terlalu jika mau berusaha. Benar kan? 2 jam di meja makan, pembicaraan mengalur menuju satu arah yang sama. Menyenangkan rupanya. Mereka, inga dan yeyen. Kami berada pada circle yang sama. Mencari jawaban kenapa aku masih seperti ini? Kenapa mimpi-mimpi belum mencapai garis finish? Pada...
Silahkan mainkan peranmu, tak apa aku hanya duduk manis di kursi penonton deretan terakhir. Memperhatikanmu dalam diam, lalu ku sunggingkan senyum pahit. Biarkan aku hanya melihat-melihat tanpa andil di sana. Aku hanya ingin melihat sandirawa-mu saja, sekadar ingin tahu peran apa yang akan kau lakoni kali ini. Nanti, setelah ini berakhir aku tau betapa kejinya dirimu dan aku akan memainkan lakonku lebih baik darimu.