Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Aku harus bagaimana?

Apa yang harus aku lakukan, ketika meminta kepada seorang yang buta untuk memilih bunga mawar atau melati-kah yang indah warnanya. Bagaimana aku bisa meminta untuk diberikan serangkaian kata penyemangatku dari seorang yang bisu. Jelaskan padaku cara untuk mengajak bernyanyi bersama seorang yang tuli. Atau ketika aku ingin menari bersama orang yang tak berkaki.

Egoisnya manusia dan cinta Tuhan.

Seringnya keegoisan mengemas keinginan menjadi sebuah kebutuhan. Desakan nafsu membuat seseorang menjadi lepas kendali. Memohon pada Tuhan atas nafsunya untuk dikabulkan. Ketika Tuhan tak menjawab doanya, mereka tak segan berasumsi bahwa Tuhan tak menyayagi hamba-Nya. Atau jika Tuhan mewujudkan inginnya tapi tak seperti doanya, Ia akan beranggapan bila Tuhan tak dengar doanya. Apakah mindset manusia sekerdil itu? Begitu bodohkah Tuhan untuk mengabulkan sesuatu yang akan membawa petaka baginya? Tuhan maha baik, entah Tuhan yang seperti apa yang kamu percayai. Apakah yang kau anggap baik akan baik bagimu? Atau sebaliknya? Tuhan tau apa yang kau butuhkan, Tuhan tau isi hatimu yang terdalam itu. Kita bisa saja berbohong pada makhluk lain, tapi tidak dengan penciptanya. Peringatkan pada diri sendiri, Tuhan tau yang terbaik untukmu. Untuk itulah Ia memberikan semua yang kau miliki sekarang.  Sebelum kau menghardik Tuhanmu atas keinginanmu yang tak terkabul,  cermati dahulu...
Silahkan mainkan peranmu, tak apa aku hanya duduk manis di kursi penonton deretan terakhir. Memperhatikanmu dalam diam, lalu ku sunggingkan senyum pahit. Biarkan aku hanya melihat-melihat tanpa andil di sana. Aku hanya ingin melihat sandirawa-mu saja, sekadar ingin tahu peran apa yang akan kau lakoni kali ini. Nanti, setelah ini berakhir aku tau betapa kejinya dirimu dan aku akan memainkan lakonku lebih baik darimu.

Tentang rasaku. Tanpa kamu.

Tentang hujan yang turunkan air rindunya pada bumi. Cerita hembusan angin yang sampaikan salam hangat di tengah dingin untuk seseorang. Tentang kamu yang tetap bergeming atas rasa ini. Entah apa yang salah, dan siapa yang patut aku salahkan. Semuanya terasa hambar, membuatku lelah yang berjuang sendirian. Mungkin lebih tepatnya memperjuangkan yang tak sepatutnya aku perjuangkan. Entahlah. Mungkin aku lebih baik diam dan memendam sendiri.