Langsung ke konten utama

Egoisnya manusia dan cinta Tuhan.

Seringnya keegoisan mengemas keinginan menjadi sebuah kebutuhan. Desakan nafsu membuat seseorang menjadi lepas kendali. Memohon pada Tuhan atas nafsunya untuk dikabulkan. Ketika Tuhan tak menjawab doanya, mereka tak segan berasumsi bahwa Tuhan tak menyayagi hamba-Nya. Atau jika Tuhan mewujudkan inginnya tapi tak seperti doanya, Ia akan beranggapan bila Tuhan tak dengar doanya. Apakah mindset manusia sekerdil itu? Begitu bodohkah Tuhan untuk mengabulkan sesuatu yang akan membawa petaka baginya? Tuhan maha baik, entah Tuhan yang seperti apa yang kamu percayai.

Apakah yang kau anggap baik akan baik bagimu? Atau sebaliknya? Tuhan tau apa yang kau butuhkan, Tuhan tau isi hatimu yang terdalam itu. Kita bisa saja berbohong pada makhluk lain, tapi tidak dengan penciptanya. Peringatkan pada diri sendiri, Tuhan tau yang terbaik untukmu. Untuk itulah Ia memberikan semua yang kau miliki sekarang. 

Sebelum kau menghardik Tuhanmu atas keinginanmu yang tak terkabul,  cermati dahulu mengapa itu terjadi? Apakah kau pernah mengabulkan ingin Tuhanmu, seperti mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya? Jika belum coba lakukanlah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku selalu berdoa atas rinduku.

Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki.  Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak y...

Sabar. Satu per satu - Kale

12 Januari 2020. 22.40. Sampai di depan rumah setelah bertemu dua teman ketika kuliah. Sudah cukup lama rupanya hiatus dari pertemuan seperti ini. Seperti sekarang aku memulai menulis lagi. Kikuk ketika mengawali pertemuan tadi. Seperti pada umumnya, bertemu kabar dan kerja dimana sekarang? Mencari tempat makan siang, karena tadi sampai di PI sekitar pukul 2 siang. Lapar. Ayo makan ! Mengunyah sembari bercerita. Tidak ku kira aku menemukan sosok yang sama sepertiku dalam menghadapi problematika hidup. Fyi, tahun ini aku menuju 24 tahun. Sudah cukup tua untuk memulai pembicaraan tentang masa depan, apa yang akan kamu lakukan, goals apa saja yang sudah dicapai. Sungguh terlambat. Tapi tidak terlalu jika mau berusaha. Benar kan? 2 jam di meja makan, pembicaraan mengalur menuju satu arah yang sama. Menyenangkan rupanya. Mereka, inga dan yeyen. Kami berada pada circle yang sama. Mencari jawaban kenapa aku masih seperti ini? Kenapa mimpi-mimpi belum mencapai garis finish? Pada...
Silahkan mainkan peranmu, tak apa aku hanya duduk manis di kursi penonton deretan terakhir. Memperhatikanmu dalam diam, lalu ku sunggingkan senyum pahit. Biarkan aku hanya melihat-melihat tanpa andil di sana. Aku hanya ingin melihat sandirawa-mu saja, sekadar ingin tahu peran apa yang akan kau lakoni kali ini. Nanti, setelah ini berakhir aku tau betapa kejinya dirimu dan aku akan memainkan lakonku lebih baik darimu.