Tentang hujan yang turunkan air rindunya pada bumi. Cerita hembusan angin yang sampaikan salam hangat di tengah dingin untuk seseorang. Tentang kamu yang tetap bergeming atas rasa ini. Entah apa yang salah, dan siapa yang patut aku salahkan. Semuanya terasa hambar, membuatku lelah yang berjuang sendirian. Mungkin lebih tepatnya memperjuangkan yang tak sepatutnya aku perjuangkan. Entahlah. Mungkin aku lebih baik diam dan memendam sendiri.
Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki. Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak y...
Komentar
Posting Komentar