Langsung ke konten utama

Hujan? Aku suka.

Hujan memang menyimpan serangkaian cerita tersendiri untuk penikmatnya. Mengumpat karena terlambat bekerja karena turun hujan, adapula yang semakin melingkar manja di atas tempat tidur selama hujan turun. Aroma kopi menguap ke udara ketika menyusuri jalan mangkunegara. Di seberang jalan sekumpulan anak kecil dengan seragam merah putih sedang berlarian kecil menghindari diri dari hujan. Sebagian dari mereka menikmati sekali, sengaja berjalan begitu lamban agar seragamnya kehujanan.

Pengendara motor pun lebih memilih berteduh di pinggiran toko ataupun halte bus. Langit semakin lama meredupkan cahaya matahari, mendung kelabu menyelimuti kota Palembang kali ini. Dingin yang menusuk hingga tulang, sekalipun tubuh sudah didekap dengan jaket tebal. Ada yang menghabiskan waktu menunggu hujan dengan bercerita, ada pula yang memilih untuk duduk di kedai kopi pinggiran jalan. Ketika hujan turun, lahirlah ojek payung. Anak-anak kecil yang mencari upah untuk jajannya.

Aku suka hujan. Meski membuat kota Palembang hari ini seperti kota penghujan, aku tetap suka. Meski buatku terpaksa sedikit terlambat ujian di kampus, aku tetap suka. Meski membuatku harus berperang dengan rasa kantuk ku sendiri, aku tetap suka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku selalu berdoa atas rinduku.

Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki.  Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak y...

Sabar. Satu per satu - Kale

12 Januari 2020. 22.40. Sampai di depan rumah setelah bertemu dua teman ketika kuliah. Sudah cukup lama rupanya hiatus dari pertemuan seperti ini. Seperti sekarang aku memulai menulis lagi. Kikuk ketika mengawali pertemuan tadi. Seperti pada umumnya, bertemu kabar dan kerja dimana sekarang? Mencari tempat makan siang, karena tadi sampai di PI sekitar pukul 2 siang. Lapar. Ayo makan ! Mengunyah sembari bercerita. Tidak ku kira aku menemukan sosok yang sama sepertiku dalam menghadapi problematika hidup. Fyi, tahun ini aku menuju 24 tahun. Sudah cukup tua untuk memulai pembicaraan tentang masa depan, apa yang akan kamu lakukan, goals apa saja yang sudah dicapai. Sungguh terlambat. Tapi tidak terlalu jika mau berusaha. Benar kan? 2 jam di meja makan, pembicaraan mengalur menuju satu arah yang sama. Menyenangkan rupanya. Mereka, inga dan yeyen. Kami berada pada circle yang sama. Mencari jawaban kenapa aku masih seperti ini? Kenapa mimpi-mimpi belum mencapai garis finish? Pada...
Silahkan mainkan peranmu, tak apa aku hanya duduk manis di kursi penonton deretan terakhir. Memperhatikanmu dalam diam, lalu ku sunggingkan senyum pahit. Biarkan aku hanya melihat-melihat tanpa andil di sana. Aku hanya ingin melihat sandirawa-mu saja, sekadar ingin tahu peran apa yang akan kau lakoni kali ini. Nanti, setelah ini berakhir aku tau betapa kejinya dirimu dan aku akan memainkan lakonku lebih baik darimu.