Langsung ke konten utama

Satu Maret

Dua puluh hari lagi aku ada di sini.
Sudah hampir habis masaku untuk mencoba lagi dan lagi.
Tidak ada lagi yang akan berubah.
Sekarang sudah lebih baik.
Keadaan sudah siap.
Pendukungku pun sudah sedia untuk menonton drama luka.
Membeli tiket dari cerita-cerita lalu.

Tetapi, kenapa kau berubah?
Pemain utama drama ini menjadi si bawang putih.
Menjadi sinar penuh hangat, sesuatu yang dari dulu aku rindu.
Tatap mata itu sangat bersahabat.
Ini baik?
Cukup baik, tapi menakutkan.
Aku hanya takut tatap mata itu kembali setajam dulu, kala tau pengkhianatan sudah siap menerjang.
Aku takut ramah sikap itu hanya pencitraan yang ingin aku lihat.
Aku sangat takut, cerah langit hari ini tak bertahan lama.
Jangan kembali seperti yang lalu, tetaplah hangat seperti ini.
Meski bukan untukku, tetaplah hangat.
Tetaplah menjadi kamu.
Di balik tatap itu, aku memohon.
Agar pementasan drama ini tetap berlanjut.
Dengan gejolak rindu-rindu seperti lalu.
Aku memohon lagi.
Tetaplah menjadi dalang dari hiruk-pikuk ini.
Terima kasih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku selalu berdoa atas rinduku.

Selesainya pertemuan dengan klien hari ini, aku sempatkan untuk tak menuju langsung ke apartemen. Di persimpangan Square Mall, aku sengaja untuk belok ke kiri menuju taman yang menyimpan cerita kita. Mungkin tepatnya menjadi saksi bisu kebahagiaan dan kesedihan yang kita buat. Aku duduk di bangku panjang yang dulu sering kita singgahi selagi menunggu senja tenggelam bersama gelap. Bangku yang dulu berwarna putih bersih, kini menjadi kecoklatan karena dihujani air langit setiap sorenya. Bulan ini telah memasuki bulan penghujan, wangi tanah liat basah mengharum dari telapak kaki.  Di sini aku mencoba mengulang semua cerita lama kita, hingga tak terasa rintik hujan dan tumpahnya air mataku bersama mengalir membanjiri wajah. Butuh waktu untuk melupakan sosok yang telah mewarnai sebagian hidup seseorang. Memang untuk mulai mencintainya tak butuh waktu lama, ketika menjalani hidup bersama dengan sosok itu waktu yang bergulir pun tak terasa telah jauh melangkah. Ketika saatnya jarak y...

Sabar. Satu per satu - Kale

12 Januari 2020. 22.40. Sampai di depan rumah setelah bertemu dua teman ketika kuliah. Sudah cukup lama rupanya hiatus dari pertemuan seperti ini. Seperti sekarang aku memulai menulis lagi. Kikuk ketika mengawali pertemuan tadi. Seperti pada umumnya, bertemu kabar dan kerja dimana sekarang? Mencari tempat makan siang, karena tadi sampai di PI sekitar pukul 2 siang. Lapar. Ayo makan ! Mengunyah sembari bercerita. Tidak ku kira aku menemukan sosok yang sama sepertiku dalam menghadapi problematika hidup. Fyi, tahun ini aku menuju 24 tahun. Sudah cukup tua untuk memulai pembicaraan tentang masa depan, apa yang akan kamu lakukan, goals apa saja yang sudah dicapai. Sungguh terlambat. Tapi tidak terlalu jika mau berusaha. Benar kan? 2 jam di meja makan, pembicaraan mengalur menuju satu arah yang sama. Menyenangkan rupanya. Mereka, inga dan yeyen. Kami berada pada circle yang sama. Mencari jawaban kenapa aku masih seperti ini? Kenapa mimpi-mimpi belum mencapai garis finish? Pada...
Silahkan mainkan peranmu, tak apa aku hanya duduk manis di kursi penonton deretan terakhir. Memperhatikanmu dalam diam, lalu ku sunggingkan senyum pahit. Biarkan aku hanya melihat-melihat tanpa andil di sana. Aku hanya ingin melihat sandirawa-mu saja, sekadar ingin tahu peran apa yang akan kau lakoni kali ini. Nanti, setelah ini berakhir aku tau betapa kejinya dirimu dan aku akan memainkan lakonku lebih baik darimu.